Dewasa ini orang-orang terlalu sibuk dengan harta, repurtasi dan eksistensi, hingga melupakan esensi dalam ranah spiritual. Sehingga timbul sebuah penyakit yang lebih mengerikan dari malaria, kangker, demam berdarah dan sebagainya. Penyakit itu adalah al-wahn, yaitu cinta dunia namun takut akan kematian. Mereka yang lebih mementingakan rupiah dari pada ibadah secara tidak sadar sudah terjangkit gejala-gejala penyakit al-wahn.
Dunia sendiri membuat seseorang dapat berpaling dari Allah, dunia sendiri memang tak ubahnya seperti sebuah arena pertarungan antara kesabaran dan hawa nafsu. Sedangkan kematian adalah sebuah awal yang membawa seseorang untuk kembali menuju Allah. Kebanyakan insan tertipu dan terjerumus kedalam hawa nafsunya, sehingga lebih mengutamakan dunia dari pada akhirat yang kekal. Bahkan nalar, perasaan dan kejujuran tak jarang dinomor seratus-kan hanya untuk mencapai sebuah kenikmatan dunia yang menyesatkan. Keinginan yang tak ada habisnya membuat seseorang mengahalkan seribu satu cara untuk mencapai sebuah kenikmatan dunia, sampai-sampai menghalalkan tipu muslihat.
Dunia sendiri membuat seseorang dapat berpaling dari Allah, dunia sendiri memang tak ubahnya seperti sebuah arena pertarungan antara kesabaran dan hawa nafsu. Sedangkan kematian adalah sebuah awal yang membawa seseorang untuk kembali menuju Allah. Kebanyakan insan tertipu dan terjerumus kedalam hawa nafsunya, sehingga lebih mengutamakan dunia dari pada akhirat yang kekal. Bahkan nalar, perasaan dan kejujuran tak jarang dinomor seratus-kan hanya untuk mencapai sebuah kenikmatan dunia yang menyesatkan. Keinginan yang tak ada habisnya membuat seseorang mengahalkan seribu satu cara untuk mencapai sebuah kenikmatan dunia, sampai-sampai menghalalkan tipu muslihat.
Dalam mencapai tujuan akhirat memang tak luput pada orientasi dunia, namun dunia dalam hal ini hanya dijadikan sebagai sarana dalam mencapai visi utama yaitu kehidupan diakhirat. Banyak paham-paham orientalis yang menjerumuskan umat islam kedalam kesesatan. Sehingga timbul keinginan untuk mengejar dunia yang diiringi sikap hedonisme dan konsumtif.
Didalam Al-Quran sudah banyak perintah mendahulukan urusan akhirat dari pada kepentingan dunia, yang paling masyhur pada doa sapu jagat:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia, juga kebaikan di akhirat. Dan peliharalah kami dari siksa neraka“. (QS Al-baqorah: 201).
Pada ayat tersebut terdapat 3 keinginan yaitu 1 keinginan perihal dunia dan 2 keinginan perihal akhirat. Jika kita pahami bahwasanya kita memang harus lebih condong berorientasi terhadap akhirat.
Apabila kita hanya mementingkan sesuatu untuk kepentingan pribadi yang mengakibatkan kita lupa akan adanya kehidupan akhirat, kita tak ada bedanya dengan orang-orang kafir yang menganggap dunia ini adalah segala-galanya. Dari Abu Hurairah radiyallahuanhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa salam bersabda:
الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ ، وَجَنَّةُ الكَافِرِ
“Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir”. (HR. Muslim)
Orang-orang yang takut akan meninggalkan dunia yaitu orang-orang yang enggan kehilangan apa yang dimilikinya didunia, padahal semua yang ada didunia adalah milik Allah dan bersifat sementara. Dunia ini tak ubahnya hanyalah sekedar tempat untuk kita menumpang lewat, tak lebih dari itu. Tempat kita sesungguhnya adalah surga yang kekal, jadi kenapa harus takut meninggalkan dunia yang fana ini.
Kita banyak membanggakan kekayaan, jabatan atau dari mana asal kita. Saat kematian tiba semua itu tidak akan berharga, namun akan menjadi pertanggung jawaban yang akan diminta saat dipadang mahsyar. Untuk apa harta dan kekayaan yang kita miliki selama hidup di dunia, untuk apa membanggakan jabatan sementara kita manusia yang lemah yang selalu butuh pertolongan dari Allah, untuk apa membanggakan dari mana asal kita sedangkan Allah tak pernah memandang tinggi atau rendah seseorang kecuali atas ketaqwa’an-nya.
Dari awal problema dalam mencintai dunia yang terlalu berlebihan membuat seseorang menjadi lupa dengan tujuan utamanya yaitu untuk menebar kebermanfaatan kepada sesama dan kepada seluruh makhluk. Kita harus bertanya kembali kepada hati kecil kita “untuk apa saya diciptakan? apakah saya sudah memberi kebermanfaatan untuk umat? Sudah ikhlaskah ibadah saya untuk Allah?” jawabanya ada pada diri kita masing-masing. Wallahu alam
Masa pembaca pertama ga dapet apa-apa
BalasHapusMasyaAllah, tulisannya sangat menyentuh. Menyadarkan bahwa sejatinya dunia bukan untuk dicintai. Terlalu banyak orang yang takut kehilangan harta, tahta dan keluarga, sedangkan semuanya adalah titipan yang sewaktu waktu bisa Allah renggut tanpa peduli apakah kita siap melepaskannya.
BalasHapusTerimakasih sudah menulis hal di atas. Bisa sedikit membuka mata saya yg sedang ingin sekali mengejar dunia :(
BalasHapus